Teks Foto : Kondisi kabut asap yang terjadi di Samarinda (SUARA FAJAR)
SUARAFAJAR, SAMARINDA – Aktivitas belajar tatap muka di Samarinda kembali menghadapi gangguan akibat memburuknya kondisi udara. Kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, terutama untuk melindungi anak-anak dari paparan polusi.
Di tengah situasi tersebut, pembelajaran dari rumah kembali menjadi salah satu langkah yang disiapkan untuk mengurangi risiko kesehatan di lingkungan pendidikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda merekomendasikan pertimbangan penerapan Pembelajaran Daring Tahap III pada 15–17 Oktober 2026 di wilayah yang terdampak.
Kepala Dinkes Samarinda, Ismid Kusasih, menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bersifat sementara dan menyesuaikan perkembangan situasi.
“Evaluasi akan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca, kualitas udara, serta jarak pandang berdasarkan pemantauan instansi terkait,” ucap Ismid.
Dampak kondisi tersebut juga mulai diantisipasi oleh satuan pendidikan. SMA Negeri 3 Samarinda, misalnya, menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau Belajar dari Rumah (BDR) pada 15–16 Oktober 2026.
Pelaksanaan BDR di sekolah tersebut mengacu pada Surat Edaran Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur Nomor 100.3.4/2461/Disdikbud.1a/SRK/2026 tertanggal 14 Oktober 2026 tentang Pembelajaran dari Rumah.
Selain menyesuaikan metode belajar, perlindungan terhadap peserta didik dan tenaga pendidik juga menjadi perhatian. Aktivitas di luar ruangan dianjurkan untuk dibatasi selama kualitas udara belum aman, sementara ruang kelas dan ruangan tertutup perlu dijaga agar tidak mudah dimasuki asap.
Penggunaan masker yang sesuai juga disarankan apabila masyarakat terpaksa beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini penting untuk mengurangi paparan partikel polutan yang dapat mengganggu saluran pernapasan.
Masyarakat pun diminta tidak mengabaikan keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, maupun iritasi mata.
“Jika gejala muncul atau semakin parah, warga diimbau segera mencari pertolongan di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat,” pesan Ismid.
Penerapan pembelajaran dari rumah selanjutnya akan menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan. Pemantauan kualitas udara dan jarak pandang menjadi dasar evaluasi untuk menentukan apakah kegiatan belajar tatap muka dapat kembali berlangsung dengan aman. (ARA)














